Showing posts with label Mountain. Show all posts
Showing posts with label Mountain. Show all posts

August 16, 2015

Pasir Berbisik Gunung Bromo

Objek foto-foto selanjutnya setelah Gunung Bromo adalah Pasir Berbisik. Kenapa namanya pasir berbisik? Ga tau, padahal cuma pasir aja, hehehe

Pasir Berbisik  masih satu wilayah dengan Gunung Bromo. Dari Gunung Bromo ke Pasir Berbisik dilewati dengan menggunakan jeep, ga lama sih, Cuma sekitar 5 menitan aja, jadi pasir berbisik itu lokasinya di belah Gunung Bromo, bentuknya seperti lautan Pasir atau gundukan-gundukan pasir, ya intinya hamparan pasir luas banget :D



Hari semakin siang, makin panas diantara butiran debu, ya ga siang siang banget, tapi jam 9.30, matahari udah diatas kita kepala. Dan sampailah pada saat yang berbahagia, udah sampai di Pasir Berbisik, dan yang terlihat kurang lebih seperti iniii..
  

Masih inget film Spiderman 3 yang ada Makhluk Pasirnya? hahaha, kalo Makhluk Pasirnya shooting di Pasir Berbisik bisa jadi Spoderman-nya kalah deh, Soalnya pasirnya banyak banget, trus ga ada tempat gelantungan buat di Parker.. hahaha *jangan terlalu serius*  Happy Holiday :D

Mendaki Gunung Bromo

Take Nothing But Pictures,
Leave Nothing But Foot Print,
Kill Nothing But Time.  


Gunung Bromo dengan ketinggian 2.329 mdpl berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Fyi, terakhir meletus pada 2011. (Info dari Wikipedia). Dan terdapat Pura Luhur Poten untuk persembahyangan umat Hindu, sayangnya saya ga bawa perlengkapan sembahyang, lain kali pasti dipersiapkan dengan lebih matang untuk ke Bromo *ingetin diri sendiri*


Setelah puas ber-selfie ria di Penanjakan, jam 6, perjalanan dilanjutkan ke Gunung Bromo, jalannya udah aspal kok, agak bergelombang juga kadang-kadang, tapi ga seperti ke Penanjakan. Di Gunung Bromo, kalian bisa liat ratusan jeep berjejer *kalau lagi ramai*. Kebetulan sih kesini nya pas 16 Agustus, yaiyalah yaa rame, pada banyak yang mau masang foto  17 Agustus-an di Gunung ala ala film 5 cm gitu :D 

 
Daripada cuma lihat Gunung Bromo dari jeep, akhirnya kita memutuskan untuk mencapai puncak Gunung Bromo, dengan cara yang anti mainstream, yang pertama yaitu tanpa kuda, yang kedua, tanpa lewat tangga. Iyaa, kita butuh sesuatu yang lebih menantang *gayaa bangeet, kayak kuat aja, hahay :D *. Fyi, tarif naik kuda di Gunung Rp 50.000 per kuda.

 
Sebenernya mendaki Gunung Bromo ga berat kok, asal NIAT, asal SEMANGAT , *mountivasion*. Tantangannya adalah 3 langkah di Gunung Bromo sama dengan 1 langkah di jalan beraspal, karena setiap naik, kakinya terseret pasir lagi kebawah *abaaang adek lelaah baaang, hahaha*. Berkat support (baca: didorong) dari abang yang ga sabaran, akhirnya sampai puncak *thanks abang, kecup kecup* dalam waktu yang relative singkat ga sampe satu jam*pendakian tercepat dibandingkan dengan mendaki gunung lainnya yang pernah saya daki*. Mendaki lo iniiii, ga pake kuda lo iniii, wahahaha, jadi terharu. Tapi panasnya Gunung Bromo luar biasaaah, bayangin aja jalan diantara lautan pasir, menanjak, tanpa pohon satupun, tanpa tempat pegangan, kalau kepleset dan gelinding, selesai dah. Tapi semua lelahnya terbayar kalau sudah sampai puncak. Mission, Accomplished, Gunung Bromo oke banget.

Dan ini penampakan dari Puncak Gunung Bromo..

  




Thank God, I have always given the opportunity to enjoy the beauty of the creations.
I’m very proud to witness it.

Gunung Penanjakan Spot View Point Bromo Sunrise

Take Nothing But Pictures,
Leave Nothing But Foot Print,
Kill Nothing But Time.

 Gunung Penanjakan berlokasi di Desa Seruni, Sukapura, Probolinggo, merupakan salah satu Spot View Point Sunrise Gunung Bromo. Gunung penanjakan masih merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Gunung Penanjakan terletak di 2.770 mdpl, artinya Gunung Penanjakan lebih tinggi dari Gunung Bromo yang  berada di 2.329 mdpl.


Perjalanan dari Malang ke Gunung Penanjakan ini dimulai dari Alun – alun malang ke Arjosari sekitar 45 menit, kemudian dilanjutkan menuju Gunung Penanjakan menggunakan jeep. Katanya sih jalur ke Bromo via malang cuma lewat jalan ini aja. Bro sis, alangkah sbaiknya siapkan badan kalian karena jalannya sangat bergelombang, dibandingkan dengan naik kapal boat, parah ini deh, jugijagijug banget, suer, ditambah lagi debunya, hahaha. Sepanjang perjalanan pasti liat banyak orang yang kesini naik mobil pribadi ataupun motor matic, terus ada deh yang mogok, dorong, dll. Mungkin biar lebih berasa adventure-nya :D

Berangkat jam 12.30 dari Arjosari, sampai di Penanjakan sekitar jam 3, langsung deh jalan ke puncak, ga sabar banget pengen tau kayak gimana sih, tapi mau nyari sunrise jam segini? dapet apaan? Hahaha, Penanjakan ini rame banget dah, hampir ga bisa jalan, orang-orang pada tidur dibawah, mana gelap lagi, *maap maap ya yang kakinya kesenggol masnya, mbaknya. Sepertinya , Penanjakan merupakan spot view point Bromo Sunrise favorit. Bentuknya bukan gunung tapi datar dan sudah di beton, dipagar besi, dan sepertinya dipersiapkan untuk melihat keindahan Gunung Bromo. Akhirnya setelah bergelap-gelap ria, kita balik lagi ke bawah buat ngopi ngopi sams tidur bentar.
 

Jam 5 pagi, sudah saatnya nunggu sunrise, pastinya sebentar lagi kan, dan jreng jeng jeng, di puncak rame banget, semua yang tadi tiduran disana udah mengamankan tempat masing-masing, syediiihh ga kebagian tempat paling depan. Tapi karena udah sampe sini, yauudaa ditungguin aja daripada makin  ga keliatan :')




Dan taraaaaaaaaa, ini hasil jepret jepret di Penanjakan. Horreee horreeeee..

 




Thank God, I have always given the opportunity to enjoy the beauty of the creations.

I am very proud to witness it.

September 15, 2014

Pendakian Gunung Abang


 

About Gunung Abang
Gunung Abang adalah gunung tertinggi ketiga di Bali (2152) dan merupakan puncak tertinggi kaldera Batur. Terletak di di Kabupaten Bangli, gunung ini berada di antara Gunung Batur (barat) dan Gunung Agung (timur). Lebih dekat dengan gunung Batur. Di antara gunung Batur dan Abang terdapat Danau Batur.

Gunung abang merupakan  bukit yang berupa hutan basah dan cemara. Bukit ini terbentuk akibat letusan besar dari gunung berapi di masa lampau. Gunung Abang ini adalah titik tertinggi dari pematang kaldera yang mengelilingi Gunung Batur yang luasnya 13,8 x 10 km dengan ketinggian  2152 mdpl. Gunung Abang masuk wilayah administrasi Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia.

Persiapan
Rencana perjalanan hari ini yaitu ngumpul di denpasar di rumah Dewi dan berangkat bersama-sama menggunakan mobil. Pasukan yang berangkat hari ini berjumlah 16 orang yang terdiri dari  6 cewe-cewe tangguh dan 10 cowo-cowo macho. Hihi. Ada Rara, Dewi, Diah, Tan Feb, Chacha, dan Desak, Ada Yoka, Agung Igung, Adita, Gungwah, Ainun, Renno, Gungwah, Jeckly, Oka dan Edul.

Perjalanan Menuju Gunung Abang

Perjalanan menuju gunung abang, dari denpasar, dimulai tanggal 14 September 2014 pukul 03.00 WITA menuju arah batu bulan, melewati singapadu, dan menuju kintamani. Jika kita sudah berada di kawasan wisata Kintamani kita bisa menuju arah timur ke arah Karangasem, selanjutnya kita akan menemukan jalan bercabang. Untuk menuju lokasi pendakian kita mengambil arah yang kekiri menuju desa Abang,  sebuah jalan aspal yang sudah mulai rusak. Kurang lebih setengah  kilometer kita akan menjumpai pura. Di pura ini terdapat areal parkir yang lumayan luas yang sebenarnya di fungsikan untuk orang Hindu bersembahyang. Di sini kita bisa menaruh motor untuk selanjutnya jalan kaki menuju puncak Gunung Abang. 

alternative kedua adalah membawa mobil melewati pura, sampai di tulisan Welcome Gunung Abang” hehe. Karena dari parkiran pura sampai ke tulisan ini melewati jalan berbatu dan cukup jauh. Lumayan untuk hemat-hemat tenaga. Makasih buat Yoka dan Feby yang udah survei lokasi h-6. AKhirnya sampai di kaki gunung abang ini jam 05.00. Jadi waktu perjalanan denpasar – kintamani adalah 2 jam dengan mobil. Setelah bersembahyang di pura ini, temen-temen balik ke mobil masing2 buat makan, isi perut, isi tenaga dan menghilangkan ngantuk karena perjalanan akan dimulai pukul 06.00.
*perjalanan dimulai dari sini*

Jam 06.00. All Pencils berkumpul di depan mobil, berdoa bersama dan Joss Pencils!!!!
Jalan dipimpin oleh Yoka, melewati pepohonan, semak-semak, rumput, ulat,  Jalannya jalan tanah, bukan bebatuan, banyak pepohonan karena disini merupakan hutan, jadi mendaki siang tidak terasa panas. Jalanannya lumayan,alan landainya sedikit sekali, dan hati hati kepleset ya, licin. Mendaki Gunung Abang cukup aman karena hanya terdapat satu jalan menuju puncak gunung abang, cukup mengikuti jalan setapaknya. Sebelum sampai ke puncak kita akan melewati 2 pura, Pura pertama disebelah kanan jalan dan pura kedua disebelah kiri jalan. Bagi umat hindu dipersilahkan mebanten dan mebakti disini.

 
*foto ini diambil disebelah Pura pertama di Gunung Abang*

Perjalanan mendaki menuju puncak dilewati dengan ngobrol, tertawa bersama, foto-foto *teteup* saling bantu membantu menarik teman di medan-medan yang sulit, karena uluran tangan ini yang ga kenal jadi kenal, yang ga akrab jadi akrab, yang sudah akrab menjadi semakin akrab. Yang ga minta tolong aja di tolongin, apalagi yang minta tolong, yah Saling tolong menolong. Mendaki tanpa gengsi. Selalu dapet temen baru. Menyenangkan. Good job team. 




Dan, selamaaatt, Jeckly yang pertama sampai ke Puncak Gunung Abang, 50 menit lebih awal dari temen-temen yang lain. Makasih udah nungguin kita foto-foto, hahaha. Perjalanan menuju puncak ini aku tempuh 4 jam, 50 menit, Lama? Iya. Tapi perjalanan santai lo ya. Yang mau ngebut bisa-bisa aja, Mungkin 3-4 jam sampai. Di puncak gunung Abang kita akan menemukan pintu masuk berupa gapura, dan di dalamnya terdapat 3 buah pelinggih. Hai Puncak Gunung Abang, Seneng yaa bisa ketemu.

Puncak Gunung Abang
Di Puncak Gunung Abang, terdapat Gapura sebagai pintu masuk, setelah melewati gapura ini, kalian akan menemukan 3 buah pelinggih (pura) sebagai tempat persembahyangan umat Hindu. Dari tempat ini kita dapat melihat Gunung Batur yang posisinya lebih rendah dari Gunung Abang, selain itu dapat melihat dengan jelas Danau Batur, karena danau batur merupakan pembatas antara Gunung Abang dan Gunung Batur.  

Setelah perjalanan hingga kepuncak, ternyata sepanjang perjalanan ga ada sampah plastik, Gunung Abang masih alami, cuma daun-daun berserakan, mungkin ga banyak orang yang kesini, karena hari ini pun cuma PENCILS yang mendaki disini tanpa ketemu orang lain satupun. Jadi buat kamu-kamu yang mau mendaki kesini tolong jaga kebersihan juga ya, buang sampah ditempatnya, dibawa sampai ke bawah. Untuk kelestarian bumi kita. 
*ALL TEAM #OURPENCILS*

Setelah selesai sembahyang, waktunya kita foto-foto, masak-masak dan makan-makan, semua perbekalan keluar, roti, air, dan pop mie, gimana caranya bikin popmie? Pakai air panas dong. Dimana dapet air panasnya? Bawa kompor doong, Thanks Yokaaa buat kompornya, hehe. 16 orang makan mie tanpa nasi, ada yang tumben ga makan nasi dari pagi tuh.

Setelah makan, jam 12.00 waktunya istirahat dan bobo-bobo ciang.
Jam 14.00 kita balik ke parkiran. Ternyata balik ke parkiran dengan jalan cepat dan tanpa foto-foto, aku, jeckly, ainun, adita dan gungwah berhasil sampai dibawah dengan waktu 1 jam 50 menit. Wow. Ternyata. Padahal naiknya 4 jam 50 menit. Haha

Karena duluan sampai dibawah, aku jadi ga tau keadaan temen-temen di belakang. Sampai akhirnya mereka dateng dengan keadaan ada yang luka, kepleset, kena ranting, ada yang keseleo. Hmmm. Cepet sembuh ya Edul, Oka, Chacha n Feby.
 
Pendakian selesai. 
Thanks team PENCILS paling Joss. #OURPENCILS
Team : Rara, Dewi, Diah, Tan Feb, Chacha, dan Desak, Yoka, Agung Igung, Adita, Gungwah, Ainun, Renno, Gungwah, Jeckly, Oka dan Edul. 


Kenapa milih mendaki dibandingkan jalan-jalan yang lain? 
Mendaki itu fun, kalau kamu suka, kalau kamu mau, n kalau kamu pengennya dari dalam hati,  mendaki itu buat aku belajar sabar, belajar bersyukur sama apa yang aku punya sekarang.  Satu lagi, persahabatan.
Sekian.

HTM : Free
Guys,  Jangan buang sampah sembarangan ya! 

Pendakian Gunung Abang


 

About Gunung Abang
Gunung Abang adalah gunung tertinggi ketiga di Bali (2152) dan merupakan puncak tertinggi kaldera Batur. Terletak di di Kabupaten Bangli, gunung ini berada di antara Gunung Batur (barat) dan Gunung Agung (timur). Lebih dekat dengan gunung Batur. Di antara gunung Batur dan Abang terdapat Danau Batur.

Gunung abang merupakan  bukit yang berupa hutan basah dan cemara. Bukit ini terbentuk akibat letusan besar dari gunung berapi di masa lampau. Gunung Abang ini adalah titik tertinggi dari pematang kaldera yang mengelilingi Gunung Batur yang luasnya 13,8 x 10 km dengan ketinggian  2152 mdpl. Gunung Abang masuk wilayah administrasi Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, Indonesia.

Persiapan
Rencana perjalanan hari ini yaitu ngumpul di denpasar di rumah Dewi dan berangkat bersama-sama menggunakan mobil. Pasukan yang berangkat hari ini berjumlah 16 orang yang terdiri dari  6 cewe-cewe tangguh dan 10 cowo-cowo macho. Hihi. Ada Rara, Dewi, Diah, Tan Feb, Chacha, dan Desak, Ada Yoka, Agung Igung, Adita, Gungwah, Ainun, Renno, Gungwah, Jeckly, Oka dan Edul.

Perjalanan Menuju Gunung Abang

Perjalanan menuju gunung abang, dari denpasar, dimulai tanggal 14 September 2014 pukul 03.00 WITA menuju arah batu bulan, melewati singapadu, dan menuju kintamani. Jika kita sudah berada di kawasan wisata Kintamani kita bisa menuju arah timur ke arah Karangasem, selanjutnya kita akan menemukan jalan bercabang. Untuk menuju lokasi pendakian kita mengambil arah yang kekiri menuju desa Abang,  sebuah jalan aspal yang sudah mulai rusak. Kurang lebih setengah  kilometer kita akan menjumpai pura. Di pura ini terdapat areal parkir yang lumayan luas yang sebenarnya di fungsikan untuk orang Hindu bersembahyang. Di sini kita bisa menaruh motor untuk selanjutnya jalan kaki menuju puncak Gunung Abang. Tapi alternative kedua adalah membawa mobil melewati pura, sampai di tulisan Welcome Gunung Abang” hehe. Karena dari parkiran pura sampai ke tulisan ini melewati jalan berbatu dan cukup jauh. Lumayan untuk hemat-hemat tenaga. Makasih buat Yoka dan Feby yang udah survei lokasi h-6. AKhirnya sampai di kaki gunung abang ini jam 05.00. Jadi waktu perjalanan denpasar – kintamani adalah 2 jam dengan mobil. Setelah bersembahyang di pura ini, temen-temen balik ke mobil masing2 buat makan, isi perut, isi tenaga dan menghilangkan ngantuk karena perjalanan akan dimulai pukul 06.00.
*perjalanan dimulai dari sini*

Jam 06.00. All Pencils berkumpul di depan mobil, berdoa bersama dan Joss Pencils!!!!
Jalan dipimpin oleh Yoka, melewati pepohonan, semak-semak, rumput, ulat,  Jalannya jalan tanah, bukan bebatuan, banyak pepohonan karena disini merupakan hutan, jadi mendaki siang tidak terasa panas. Jalanannya lumayan,alan landainya sedikit sekali, dan hati hati kepleset ya, licin. Mendaki Gunung Abang cukup aman karena hanya terdapat satu jalan menuju puncak gunung abang, cukup mengikuti jalan setapaknya. Sebelum sampai ke puncak kita akan melewati 2 pura, Pura pertama disebelah kanan jalan dan pura kedua disebelah kiri jalan. Bagi umat hindu dipersilahkan mebanten dan mebakti disini.

 
*foto ini diambil disebelah Pura pertama di Gunung Abang*

Perjalanan mendaki menuju puncak dilewati dengan ngobrol, tertawa bersama, foto-foto *teteup* saling bantu membantu menarik teman di medan-medan yang sulit, karena uluran tangan ini yang ga kenal jadi kenal, yang ga akrab jadi akrab, yang sudah akrab menjadi semakin akrab. Yang ga minta tolong aja di tolongin, apalagi yang minta tolong, yah Saling tolong menolong. Mendaki tanpa gengsi. Selalu dapet temen baru. Menyenangkan. Good job team. 




Dan, selamaaatt, Jeckly yang pertama sampai ke Puncak Gunung Abang, 50 menit lebih awal dari temen-temen yang lain. Makasih udah nungguin kita foto-foto, hahaha. Perjalanan menuju puncak ini aku tempuh 4 jam, 50 menit, Lama? Iya. Tapi perjalanan santai lo ya. Yang mau ngebut bisa-bisa aja, Mungkin 3-4 jam sampai. Di puncak gunung Abang kita akan menemukan pintu masuk berupa gapura, dan di dalamnya terdapat 3 buah pelinggih. Hai Puncak Gunung Abang, Seneng deh bisa ketemu, seneng aku bisa kesini dan berdiri disini.

Puncak Gunung Abang
Di Puncak Gunung Abang, terdapat Gapura sebagai pintu masuk, setelah melewati gapura ini, kalian akan menemukan 3 buah pelinggih (pura) sebagai tempat persembahyangan umat Hindu. Dari tempat ini kita dapat melihat Gunung Abang yang posisinya lebih rendah dari Gunung Batur, selain itu dapat melihat dengan jelas Danau Batur, karena danau batur merupakan pembatas antara Gunung Abang dan Gunung Batur.  

Setelah perjalanan hingga kepuncak, ternyata sepanjang perjalanan ga ada sampah plastik, Gunung Abang masih alami, cuma daun-daun berserakan, mungkin ga banyak orang yang kesini, karena hari ini pun cuma PENCILS yang mendaki disini tanpa ketemu orang lain satupun. Jadi buat kamu-kamu yang mau mendaki kesini tolong jaga kebersihan juga ya, buang sampah ditempatnya, dibawa sampai ke bawah. Untuk kelestarian bumi kita. Makasih.
*ALL TEAM #OURPENCILS*

Setelah selesai sembahyang, waktunya kita foto-foto, masak-masak dan makan-makan, semua perbekalan keluar, roti, air, dan pop mie, gimana caranya bikin popmie? Pakai air panas dong. Dimana dapet air panasnya? Bawa kompor doong, Thanks Yokaaa buat kompornya, hehe. 16 orang makan mie tanpa nasi, ada yang tumben ga makan nasi dari pagi tuh.

Setelah makan, jam 12.00 waktunya istirahat dan bobo-bobo ciang.
Jam 14.00 kita balik ke parkiran. Ternyata balik ke parkiran dengan jalan cepat dan tanpa foto-foto, aku, jeckly, ainun, adita dan gungwah berhasil sampai dibawah dengan waktu 1 jam 50 menit. Wow. Ternyata. Padahal naiknya 4 jam 50 menit. Haha

Karena duluan sampai dibawah, aku jadi ga tau keadaan temen-temen di belakang. Sampai akhirnya mereka dateng dengan keadaan ada yang luka, kepleset, kena ranting, ada yang keseleo. Hmmm. Cepet sembuh ya Edul, Oka, Chacha n Feby.
 
Pendakian selesai. 
Thanks team PENCILS paling Joss. #OURPENCILS
Team : Rara, Dewi, Diah, Tan Feb, Chacha, dan Desak, Yoka, Agung Igung, Adita, Gungwah, Ainun, Renno, Gungwah, Jeckly, Oka dan Edul. 


Kenapa milih mendaki dibandingkan jalan-jalan yang lain? 
Mendaki itu fun, kalau kamu suka, kalau kamu mau, n kalau kamu pengennya dari dalam hati, walaupun bisa aja aku milih jalan-jalan ke pantai, mall, cafe, distro, boutique atau yang lainnya seperti teman-teman yang lain. Jadi, mungkin ga bisa ditanya kenapa, karena ini selera. Ini caraku menikmati hidup. Fyi, mendaki itu buat aku belajar sabar, belajar bersyukur sama apa yang aku punya sekarang. Coba aja sekarang aku masih hidup di hutan, mungkin aku ga dapet kehidupan yang nyaman di kota seperti yang sekarang aku rasain, ga bisa make komputer n nulis di blog ini. Satu lagi, persahabatan.
Sekian.
HTM : Free
Guys,  Jangan buang sampah sembarangan ya! 

August 7, 2014

Mendaki Gunung Ijen #BanyuwangiDay2

Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 mdpl. Untuk mendaki ke gunung inisaya berangkat dari Bali menuju banyuwangi melewati pelabuhan Gilimanuk-Ketapang. 




Untuk masuk ke areal gunung, dikenakan retribusi sebesar Rp 3.000 per orang.  Perjalanan menuju puncak gunung, melewati jalan setapak, dan tidak ada jalan yang bercabang. Jadi pendakian disini dipastikan aman dan tidak ada yang akan kesasar. Pendakian berlangsung santai. Saya berangkat jam 01.00 WIB dari p\arkiran dan sampai di puncak sekitar pukul 03.30 WIB. Dan tujuannya adalah melihat "Blue Fire" atau api berwarna biru yang ada disekitaran kawah Gunung Ijen. 

Untuk mendaki di Gunung Ijen, kita harus siap dengan kepulan asap belerang, harus membawa masker atau penutup hidung karena bau belerangnya sangat pekat, kuncinya adalah jangan panik, bernafas seperti biasa, kalau tidak kuat, lambaikan tangan *ups* segera turun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti lemas dan keracunan asap belerang.

Setelah di ketinggian 2000an mdpl, kita dapat beristirahat di Pos Bunder (pos yang unik karena memiliki bentuk lingkaran) jalur selanjutnya relatif agak landai. Taraaaaa!!! Sampai di puncak. Dan kita sempat melihat Blue Fire!! Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal. Kemarin saya dan teman-teman tidak menuju kawah karna sesuatu dan lain hal. hehe. Suhu di puncak sangat dingin *menurut saya* tapi teman saya dewi, she is the strong girl, bisa-bisanya ga pake kaos kaki n cuma pake sandal buat mendaki. yayaya sudah profesional. kalau saya sih amatir :D

Berbeda dari gunung lainnya, mendaki Gunung Ijen, kita dapat membeli oleh-oleh langsung khas Gunung Ijen yaitu Belerang. Belerang ini sudah dibentuk sedemikian rupa oleh penambang dan penjual disini. Harganya juga terjangkau yaitu Rp 5.000-15.000




HTM Gunung Kawah Ijen Rp 3.000/orang
Kerajinan dari Belerang     Rp 5.000-15.000
Parkir Free